📥 Ada pertanyaan masuk: "Kalau meminta seseorang mati karena terlalu dzalim bagaimana hukumnya ustadz? 🙏" Berikut ulasannya 👇
📝 "Hukum Mendoakan Keburukan Untuk Orang yang Sangat Zalim"
Landasan Utama
1. Firman Allah Ta'ala:
لَّا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
"Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa': 148)
2. Hadis Nabi ﷺ:
عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَرْوَى بِنْتَ أُوَيْسٍ ادَّعَتْ عَلَى سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ أَخَذَ شَيْئًا مِنْ أَرْضِهَا فَخَاصَمَتْهُ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ فَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا كُنْتُ آخُذُ مِنْ أَرْضِهَا شَيْئًا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ ظُلْمًا طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ لَا أَسْأَلُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَعَمِّ بَصَرَهَا وَاقْتُلْهَا فِي أَرْضِهَا قَالَ فَمَا مَاتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ثُمَّ بَيْنَا هِيَ تَمْشِي فِي أَرْضِهَا إِذْ وَقَعَتْ فِي حُفْرَةٍ فَمَاتَتْ
Dari Hisyam bin 'Urwah, dari ayahnya, bahwa Arwa binti Uwais menuduh Sa'id bin Zaid telah merampas sebagian tanahnya. Ia kemudian mengadukan hal tersebut kepada Marwan bin al-Hakam
Sa'id lalu berkata, "Bagaimana mungkin aku mengambil sebagian dari tanahnya setelah apa yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ?"
Marwan bertanya, "Apa yang engkau dengar dari Rasulullah ﷺ?"
Sa'id menjawab, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi.'"
Marwan pun berkata kepadanya, "Aku tidak akan meminta bukti lagi darimu setelah ini."
Lalu Sa'id berdoa, "Ya Allah, jika wanita itu berdusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya."
(Perawi) berkata, "Maka wanita itu tidak meninggal dunia hingga penglihatannya benar-benar hilang (buta). Kemudian suatu ketika saat ia sedang berjalan di tanahnya, tiba-tiba ia terperosok ke dalam sebuah lubang lalu tewas." (H.R. Muslim: 1610)
Penjelasan Para Ulama
1. Imam an-Nawawi rahimahullah ketika mensyarah hadits tersebut dalam Syarah Shahih Muslim, mengatakan:
وَفِي حَدِيثِ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَنْقَبَةٌ لَهُ وَقَبُولُ دُعَائِهِ وجواز الدعاء على الظالم ومستدل أَهْلِ الْفَضْلِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Dan di dalam hadis Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhuma ini terdapat keutamaan baginya, (bukti) dikabulkannya doanya, dan kebolehan mendoakan (keburukan) atas orang yang berbuat zalim, serta menjadi dalil bagi orang-orang yang memiliki keutamaan (ahlul fadhl), Wallahu a'lam."
2. Imam al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat ke-148 surah An-Nisa' menjelaskan, dalam tafsirnya:
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ: الْمُبَاحُ لِمَنْ ظُلِمَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ، وَإِنْ صَبَرَ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ، فَهَذَا إِطْلَاقٌ فِي نَوْعِ الدُّعَاءِ عَلَى الظَّالِمِ. وَقَالَ أَيْضًا هُوَ وَالسُّدِّيُّ: لَا بَأْسَ لِمَنْ ظُلِمَ أَنْ يَنْتَصِرَ مِمَّنْ ظَلَمَهُ بِمِثْلِ ظُلْمِهِ وَيَجْهَرَ لَهُ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ.
"Berkata Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu dan ulama lainnya: Diperbolehkan bagi orang yang dizalimi untuk mendoakan (keburukan) atas orang yang menzaliminya, namun jika ia bersabar, maka itu lebih baik baginya." Maka ini merupakan kebolehan mutlak dalam bentuk doa terhadap orang yang berbuat zalim.
Beliau (Ibnu Abbas) dan as-Suddi juga berkata: "Tidak mengapa (diperbolehkan) bagi orang yang dizalimi untuk menuntut balas (membela diri) dari orang yang menzaliminya dengan balasan yang sepadan dengan kezalimannya, serta (diperbolehkan) mengungkapkan perkataan yang buruk kepadanya secara terang-terangan."
3. Imam al-Baghawi rahimahullah memberikan batasan yang sangat tegas terkait kebolehan ini, dalam tafsirnya:
إِنْ شُتِمَ جَازَ أَنْ يَشْتُمَ بِمِثْلِهِ لَا يَزِيدُ عَلَيْهِ.
"Jika ia dicaci, maka ia diperbolehkan membalas cacian tersebut dengan cacian yang sepadan, (namun) tidak boleh melebihinya."
🪶 Kesimpulan
1. Sabar Lebih Utama:
Memilih untuk bersabar, memaafkan, dan mendoakan hidayah kebaikan bagi orang yang berbuat zalim adalah kedudukan akhlak yang tertinggi dan jauh lebih dicintai oleh Allah ﷻ.
Hal ini merupakan praktik langsung (sunnah) dari Nabi ﷺ, ketika beliau disakiti atau didustakan, beliau lebih memilih mendoakan hidayah.
Contoh, ketika kabilah Daws membangkang dan sahabat meminta agar Nabi ﷺ mendoakan kebinasaan bagi mereka, beliau justru berdoa:
اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَائْتِ بِهِمْ
"Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daws dan datangkanlah mereka" (H.R. Muslim: 2524)
Sehingga, memaafkan adalah jalan utama bila masih ada harapan perbaikan.
2. Batasan Maksimal Kebolehan:
Jika seseorang ingin mendoakan keburukan bagi pelaku zalim, hukum asalnya dibolehkan (mubah), dengan syarat mutlak pembalasan itu harus sepadan (maksimal setara dengan penderitaan atau kezaliman yang ia terima).
3. Haram Melampaui Batas
Jika doanya melampaui batas dari kezaliman yang diterima, maka statusnya berbalik ikut menjadi pelaku kezaliman yang kelak akan dituntut pertanggungjawabannya di akhirat.
🪶 Catatan Penting
Mengapa Sahabat Sa'id bin Zaid Radhiyallahuanhu sampai mendoakan kebutaan dan kematian kepada wanita tersebut?
Persoalannya bukan sekadar urusan sengketa tanah, melainkan adanya tuduhan palsu secara terbuka kepada seorang Sahabat Nabi. Jika beliau tertuduh sebagai perampas hak orang lain, maka runtuhlah predikat 'adalah (kredibilitas/keadilan) beliau.
Hal ini akan berdampak fatal pada tertolaknya hadis-hadis Nabi ﷺ yang beliau riwayatkan. Ini adalah fitnah besar yang mengancam integritas agama.
Perlu ditegaskan, mendoakan kematian atau kebinasaan tidaklah dibenarkan untuk kezaliman yang bersifat ringan (seperti utang piutang kecil, atau perselisihan duniawi yang remeh), doa kebinasaan yang dicontohkan dalam atsar Sahabat di atas berkaitan dengan kezaliman yang sangat berat, masif, dan berupa fitnah yang mengancam kehormatan serta integritas agama.
Wallahu a'lam.
🪶 Oleh: Akhi Raihan, S.F.U.
(Alumni Ma'had Aly Parabek & Mahasiswa Magister Hukum Keluarga UIN Imam Bonjol Padang)
Seluruh isi materi murni opini/sudut pandang pribadi penulis, tanpa mewakili kelompok atau institusi mana pun. ✍️
Silakan Share Jika Bermanfaat, Tanpa Mengubah Apapun. 👉🏻