Mengapa Orang Baik Selalu Dicari Kesalahannya

قال أبو بكر بن العربي المالكي (ت ٥٤٣هـ) رحمه الله :

وَالنَّاسُ إِذَا لَمْ يَجِدُوا عَيْبًا لِأَحَدٍ، وَغَلَبَهُمُ الْحَسَدُ عَلَيْهِ، وَعَدَاوَتُهُمْ لَهُ؛ أَحْدَثُوا لَهُ عُيُوبًا

Telah berkata Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul 'Arabirahimahullah (wafat 543 H) semoga Allah merahmati beliau:

"Dan manusia itu, apabila mereka tidak menemukan aib (kekurangan/celaan) pada diri seseorang, namun rasa hasad (dengki) dan permusuhan telah menguasai diri mereka terhadap orang tersebut; niscaya mereka akan mengada-adakan (menciptakan/mereka-reka) aib-aib untuknya." (Al-'Awashim min al-Qawashim : 244)


Ketika Ustadz Abdurrahman Zahier Hafidzahullah menukilkan riwayat ini dalam Story WhatsApp, beliau memberikan catatan :

In psychology we called as an Envy-driven Character Assassination

“Dalam ilmu psikologi, kita menyebutnya sebagai pembunuhan karakter yang didorong oleh rasa dengki”


Ketika membaca komentar beliau, ane terdiam dan mulai menyimpulkan beberapa hal :


1.Mustahil Bisa Meraih Ridha Semua Pihak

Menjadi orang baik dan lurus tanpa memiliki pembenci adalah sesuatu yang mustahil, karena bagi hati yang telah terjangkit penyakit hasad (dengki), kebaikan, kejujuran, dan integritas pada diri seseorang bukanlah sebuah kelebihan.

Sebaliknya, kelebihan tersebut justru dianggap sebagai sebuah "kesalahan" dan ancaman yang mengusik kedengkian mereka.

Sebagaimana Imam Asy-Syafi'i rahimahullah kepada salah seorang muridnya:

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ، وَلَيْسَ إِلَى السَّلَامَةِ مِنْهُمْ سَبِيلٌ

"Keridhaan manusia adalah sebuah tujuan yang tidak akan pernah bisa dicapai, dan tidak ada jalan (cara) untuk bisa selamat dari (celaan) mereka.” (Siyar A'lam an-Nubala)


2. Kewajiban Tabayyun Ketika Mendapatkan Informasi Negatif

Apabila kita menerima informasi negatif mengenai kehormatan seseorang (betapapun banyaknya pihak yang menarasikan), syariat mewajibkan kita untuk melakukan tabayyun (klarifikasi yang ketat).

Jangan pernah menelan mentah-mentah informasi tersebut, terlebih jika ia menjadi landasan dalam mengambil keputusan krusial dan berjangka panjang. Sangat mungkin orang yang dibicarakan adalah sosok yang baik dan lurus, namun reputasinya sengaja dihancurkan melalui kebohongan publik (character assassination) agar ia dijauhi, dan sebaliknya, simpati publik beralih kepada para pendengki.

Hal ini telah Allah ingatkan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun/tatsabbut), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 6)

Berhati-hatilah jangan sampai terjerumur ke dalam perbuatan menjatuhkan kehormatan seorang muslim, karena Rasul telah menegaskan sucinya kehormatan seorang muslim ketika Haji Wada’:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، وَسَتَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ، فَسَيَسْأَلُكُمْ عَنْ أَعْمَالِكُمْ، أَلَا فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي ضُلَّالًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ، أَلَا لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ

"Maka sesungguhnya darah kalian (nyawa), harta kalian, dan kehormatan kalian, adalah haram (suci dan terlarang untuk dilanggar) atas kalian. Kesuciannya sama seperti sucinya hari kalian ini, di negeri kalian ini (Makkah), dan di bulan kalian ini (Dzulhijjah). Dan kalian pasti akan menemui Rabb kalian, lalu Dia akan menanyai kalian tentang amal perbuatan kalian. Ingatlah, janganlah kalian kembali menjadi sesat setelah peninggalanku, di mana sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain (saling menumpahkan darah). Ingatlah, hendaklah orang yang hadir (menyaksikan) menyampaikannya kepada yang tidak hadir." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dosanya lebih besar di sisi Allah daripada mezinahi ibu kandung, sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

الرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

"Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seorang laki-laki yang menyetubuhi ibu kandungnya sendiri. Dan sesungguhnya riba yang paling parah adalah (merusak) kehormatan seorang muslim."


3.Hasad Merupakan Penyakit Lintas Zaman

Perbuatan manipulasi/rekayasa aib, dan permusuhan yang digerakkan oleh rasa dengki bukanlah fenomena sosial yang baru. Tetapi sejarah kelam yang terus berulang sejak zaman dahulu, dari generasi ke generasi.

Hal ini sejalan dengan peringatan Rasulullah ﷺ yang menyebut hasad sebagai "da'ul umam" (penyakit umat-umat terdahulu), beliau bersabda:

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ: أَمَا إِنِّي لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ، وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ

"Telah menjalar kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian, yaitu dengki (hasad) dan kebencian (al-baghdha'). Kebencian itu adalah pencukur (al-haliqah). Ingatlah, aku tidak mengatakan ia mencukur rambut, akan tetapi ia mencukur agama." (HR. Tirmidzi : 2510)

Dari sini terlihatlah bahwa kejahatannya tetap sama, hanya saja ia terus bermutasi dan berbentuk dengan bentuk yang lebih modern.


Kesimpulan:

Fenomena pembunuhan karakter seringkali berakar pada penyakit hasad (dengki), di mana kebaikan dan integritas seseorang justru memicu pihak lain untuk merekayasa aib. Syariat Islam secara tegas mewajibkan tabayyun (klarifikasi ketat) terhadap setiap informasi negatif. Hal ini merupakan langkah penting untuk menjaga kesucian kehormatan seorang Muslim dari fitnah yang dosanya lebih berat dari menzinahi seorang ibu. Wallahu A’lam.


Oleh : Raihan Faqoth, Mahasantri Semester 8 Ma’had Aly Sumatera Thawalib Parabek.
Tekan untuk Mode Baca